Skip to content

Institut Teknologi Dunia

Menjadi nomor 1 di Indonesia sepertinya belum mampu menghentikan langkah salah satu institusi yang bergerak di bidang teknoligi ini untuk berhenti berkembang. Justru, tantangan yang sesungguhnya barulah akan dimulai. Persaingan yang terjadi saat ini tidak hanya mencakup ruang Nasional, melainkan Internasional. Persaingan sumber daya manusia yang berebut kursi di Universitas terbaik di dunia juga menjadi adrenalin pemacu semangat mimpi institusi teknologi ini untuk menjadi nomor 1 didunia. Hal ini mungkin terkesan muluk, namun mimpi seperti inilah yang menjadikan ITB tetap hidup dan berkembang. Mungkin tidak akan menjadi nomor 1 seperti Harvard, namun setidaknya, dipandang hormat oleh para pencari ilmu internasional.

Persiangan tingkat dunia bukanlah hal mudah, tidak main main dan diperlukan komitmen jika ingin meraihnya. Yang dihadapi disini bukan hanya pemikiran masyarakat sebangsa yang dapat di prediksi, melainkan fluktuasi emosi dan pengetahuan para pengemudi institusi terkemuka dunia dan yang sedang menuju kesana. Jika ingin merebut posisi pertama, beberapa nama besar seperti Harvard University dan Oxford, harus di contoh.

Segala hal yang diperlukan, diharapkan dan di bayangkan mungkin dibutuhkan harus dipersiapkan dengan sangat sempurna, tanpa cela sedikitpun, dan melihat dari basic requirement world class ini, Institut Teknologi Bandung nampaknya masih sangat membutuhkan beberapa perubahan besar yang mendasar untuk dapat naik ke step berikutnya. Untuk menjadi nomor 1, tidaklah mudah dan singkat seperti pemilu calon presiden, dalam hal pendidikan, mungkin membutuhkan waktu tahunan sampai puluhan tahun untuk benar-benar bisa matang dan survive nantinya.

Dasar dari universitas yang baik adalah system pengajaran yang baik, infrastruktur yang kokoh dan benar, SDM yang berkualitas dan system pembentukan karakter yang preventif yang kemudian menghasilkan lulusan yang sangat berkualitas baik secara attitude, behaviour, kedisiplinan, kejujuran dan pengetahuan akan bidangnya.

Infrastruktur dalam hal peningkatan kualitas kurikulum yang disetarakan dengan level internasional merupakan tahapan awal yang perlu dipertimbangkan oleh ITB agar nantinya dapat meningkatkan persyaratan masuk murid-murid SMA. Kurikulum disini, menurut Kepmendiknas no. 232/U/2000 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi. Kurikulum yang digunakan di ITB saat ini adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi setidaknya bila diartikan sebagai rencana, karena dalam penyusunannya MA-ITB mulai dengan profil lulusan yang ingin dihasilkan dan seterusnya. Mungkin ada baiknya jika ITB mencoba meningkatkan kurikulum dengan memulai tahapan melakukan kerjasama dengan universitas terkemuka seperti Cambridge, Oxford atau Harvard university dan mencontoh kurikulumnya.

Setelah memiliki kurikulum yang baik, maka secara langsung akan terbentuk pula system perkuliahan baru yang akan menghasilkan cara pembentukan karakter yang dihaapkan menjadi preventif bukan mengancam. Seperti dalam hal mencontek, disini murid bukan sebagai objek yang di beri tahu melainkan objek yang terjun langsung kedalam proses. Contohnya, yang dilakukan oleh institusi bukanlah memasang pengumuman bahwa mencontek itu dilarang melainkan memberi tahu diawal dan dikombinasikan dengan pemasangan kamera pengawas yang diyakini mampu mengurangi keinginan si murid untuk mencontek. Hal kecil seperti inilah yang jika di bangun dengat tepat nantinya akan menghasilkan SDM yang sangat berkualitas.

Kemudian, dengan adanya aturan baru yang membutuhkan fasilitas yang menunjang, dalam artian bukan memadai melainkan memuaskan, ITB perlu meningkatkan pra-sarana perkuliahan secara menyeluruh, baik dalam perngakat pembelajaran maupun fasilitas kampus. Perlu diadakan penelitian dan survey langsung ke universitas yang dicontoh kemudian menerapkan semaksimal mungkin apa yang didapat disana. Karena fasilitas yang memuaskan akan menunjang proses pembelajaran murid-murid di ITB.

Nah kira kira, berdasarkan hasil pemikiran dan obrolan saya dengan beberapa rekan saya yang masih awam ini, inilah langkah dan pemikiran yang kiranya diperlukan oleh ITB untuk menjadi nomor 1 didunia ☺

Advertisements

UAS CI

Pada UAS kali ini, kelompok kami hendak membahas mengenai bisnis digital yang gagal : Digital Beat Store. Toko ini merupakan sebuah sarana distribusi musik secara digital. Tiap lagu yang ditawarkan hanya dihargai sebesar 5.000 – 10.000 rupiah, tergantung dari lagu luar atau dalam Indonesia. Pada awalnya toko yang bernuansa digital ini berdiri di samping studio Blitz Megaplex, Parisj Van Java Mall, Bandung. Dengan perangkat layar sentuh interaktif, toko ini menawarkan keleluasan untuk browsing data-data lagu. Setelah itu pelanggan hanya tinggal memasukan lagu-lagu yang diinginkan (setelah mendengarkan preview lagunya) ke keranjang belanja, lalu pilih media transfer data, maka dalam hitungan menit belanjaan pelanggan sudah siap.

Dari berbagai proses di atas, berikut adalah pendekatan model bisnis yang coba kami telaah dari Digital Beat Store.

Model bisnis di atas terbukti gagal karena memang tak terpenuhinya blok-blok penting dari pendekatan model bisnis, terutama di bagian Key Sources. Namun, apabila model bisnis di atas terpenuhi blok-bloknya, terdapat berbagai ide-ide inovasi yang mampu dikembangkan berdasarkan pendekatan SCAMPER (innovation mix, dapat dipakai hanya sebagian saja), misalnya,

  • Substitute : mengganti ornamen digital pada servicescape toko dengan nuansa yang lebih cozy dan homy.
  • Combination : menggabungkan konsep kafe pada Digital Beat Store, juga konsep webstore
  • Adapt : menambah ranah pembelanjaan ke arah buku dan film.
  • Magnify : memperkuat kurasi konten
  • Put To Other : menjadikan DBS sebuah lifestyle brand
  • Eliminate : menghapuskan sistem toko yang embeded pada toko lain (pada kasus ini Blitz Megaplex)
  • Rearrange : menata ulang ruang dan juga sistem pendataan dengan metode sortir yang lebih mutakhir, misalnya bisa mendeteksi preferensi personal pelanggan, seperti Genius Playlist (iTunes)

Mungkin sekian yang bisa kami coba tawarkan sebagai bentuk inovasi dari Digital Beat Store.

Pegasus, move people through the sky!


Sekemas ide menarik dari kelompok kami : Pegasus.

Solusi berkendara untuk masa kini. Menghindari kemacetan akibat volume kendaraan yang semakin tinggi, memberikan kesempatan untuk bermobilitas lebih tinggi dengan solusi bahan bakar ramah lingkungan.

Fitur-fitur yang ditawarkan antara lain : artificial intelligenceauto pilotvoice commandhydro fuel (1 liter for 100 Km), changeable colorinvisible mode. Semua fitur ditawarkan untuk menembus batas-batas berkendara yang pernah ada.

Pegasus, move people through the sky!

Kreativitas dan Inovasi

Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan yang sudah ada.

Menurut kelompok kami, asal mula kreativitas adalah, berasal dari otak, karena otak merupakan sumber pemikiran manusia, otak menghasilkan pemikiran, dan pemikiran itu yang merupakan bentuk awal dari kreativitas. oleh karena itu, kelompok kami menyimpulkan kreativitas bersumber dari otak.

Inovasi berasal dari kata latin, “innovation” yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya “innova” yang artinya memperbarui dan mengubah. Innovasi merupakan suatu perubahan yang baru menuju kearah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang sudah ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana atau tidak secara kebetulan.

dalam kelas Kreativitas dan Inovasi, disebutkan bahwa, terdapat lima tingkatan inovasi,

  • Inovasi Existential: Segala hal harus ada terlebih dahulu sebelum hal-hal lain bisa terjadi padanya.
  • Inovasi Communicational: Ketika suatu hal telah terwujud, dia akan berhubungan atau berkomunikasi dengan proses lainnya.
  • Inovasi Instrumental: Dari semua hubungan-hubungan yang terjalin, hubungan yang bersifat instrumental yang paling penting karena membawa kita menciptakan sesuatu.
  • Inovasi Orientational: Alat-alat atau alat-alat bantu tersebut harus diarahkan kegunaannya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna (untuk lingkungan, masyarakat, sosial).
  • Inovasi Innovational: Segala sesuatu yang diberikan kepada dan diterima oleh masyarakat adalah inovasi yang memberikan objek baru, fitur baru, produk baru.

Ada suatu hubungan yang tidak dapat terpisahkan dari kretivitas dan inovasi, karena menurut kelompok kami, inovasi muncul dari keinginan untuk berkreasi. tanpa keinginan yang kemudian menghasikan kreativitas, tidak akan terlahir inovasi.

Members

Aghnia Banat (19009037)

Anastasya Wiramedia (19009107)

Adryan Hafizh (19009087)

Astrid Handari (19009122)

Citra Nurul Djajanti (19009124)

Nindya Kusuma Wardhani (19009088)

Tri Adi Pasha (19009045)